BUPATI JOMBANG PERTAMA

Perpustakaan STikes ICme Jombang, STikes ICme Jombang (2019) BUPATI JOMBANG PERTAMA. [Image]

[img]
Preview
Image
798306_138486199645461_1313130622_o.jpg

Download (51kB) | Preview

Abstract

Kanjeng Sepuh atau Kanjeng Jimat adalah panggilan kesayangan warga Jombang untuk Bupati Jombang pertama yakni Raden Adipati Arya Soeroadiningrat atau R.A.A. Soeroadiningrat. Beliau menjabat sebagai Bupati Jombang sejak 1910 hingga 1930. Sebelum masa kepemimpinan beliau, Jombang merupakan daerah afdeeling Karesidenan Surabaya dengan pusat pemerintahan Jombang. Secara geografis Jombang terletak pada titik ketinggian 40 meter di atas permukaan air laut. Namun sebelum masuk di bawah afdeeling Surabaya terlebih dahulu Jombang menjadi bagian afdeeling Mojokerto wilayah paling barat. Kemudian pada tahun 1881 Jombang dipisahkan menjadi afdeeling tersendiri. Sekitar tahun 1910 afdeeling resmi dipisahkan dan menjadi sebuah kabupaten baru dengan cakupan luas sekitar 920 km persegi. Sebagai daerah afdeeling baru Jombang dibagi menjadi dua kontrol afdeeling, yaitu kontrol afdeeling Jombang, meliputi distrik Jombang dan Ploso. Kontrol afdeeling kedua terletak di Mojoagung yang membawahi distrik Mojoagung dan Ngoro. Sebagai pemimpin lulusan pondok pesantren dan perguruan seni beladiri, R.A.A. Soeroadiningrat V memiliki bekal keilmuan yang cukup. Tulisan tangan beliau dikenal sangat indah, terutama jika menggunakan huruf Arab Pego dan hu ruf Jawa. Namun sangat jelek jika memakai huruf latin. Hal ini diakui oleh Bapak Raden Panji Darmodi selaku cucu beliau. Sosok R.A.A. Soeroadiningrat V juga dikenal sebagai seorang tokoh pluralis dan moderat. Bukti kepluralisan beliau diwujudkan pada penghormatan terhadap keyakinan lain di luar Agama Islam yang beliau anut. Bahkan di ruang kerja beliau terdapat patung Budhis simbol Agama Buddha dan Batara Wisnu sebagai simbol Agama Hindu. Meskipun demikian R.A.A. Soeroad iningrat bukan penganut sinkretis agama. Upaya untuk mendekati Belanda digunakan Bupati Jombang pertama sebagai media penyambung. Sehingga memudahkan agenda tersembunyi beliau untuk semaksimal mun gkin memakmurkan rakyat. Dengan cara ini akhirnya rakyat tidak terbebani, baik pungutan pajak yang mencekik maupun kebijakan lain. Justru banyak kaum jelata menghormati beliau sebagai sosok pengayom dan mengerti kebutuhan rakyat. Karena beliau dikenal juga sebagai orang pintar yang bisa mengobati orang sakit dengan ramuan-ramuan tradisional. Atas jasa baik beliau sebagai pemimpin dan disukai rakyatnya, maka Pemerintah Belanda memberikan bintang kehormatan Ridder Der Oranye Nasaw atau bintang kehormatan sebagai tangan kanan Raja (orang kepercayaan Belanda). Setelah jabatan Kanjeng Sepuh sebagai Bupati pertama Jombang diserahkan kepada putra beliau Raden Adipati Arya Setjoadiningrat, maka mulailah masa pensiun beliau. Untuk mengisi waktu di sela aktifitas pensiun, Kanjeng Sepuh sering melukis di kamar pribadi beliau. Aktifitas melukis ini membuktikan b ahwa Kanjeng Sepuh memiliki bakat terpendam sebagai seniman lukis, meskipun menolak dikatakan sebagai seniman. Raden Adipati Arya Soeroadiningrat (Kan jeng Sepuh) murud kasidan jati atau dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa pada 20 April 1946, tepatnya bulan Suro, hari Jumat Pahing.19 Banyak kalangan dan kolega beliau merasa sangat kehilangan, termasuk para tokoh ulama. Sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum jenazah dimakamkan di pemakaman kelu arga Pulo Sampurno , sebanyak empat ulama pemimpin empat pondok pesantren besar di Kabupaten Jombang.

Item Type: Image
Subjects: H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions: Images
Depositing User: Repository STIKES ICME Jombang
Date Deposited: 03 Dec 2019 15:39
Last Modified: 03 Dec 2019 15:39
URI: http://repo.stikesicme-jbg.ac.id/id/eprint/2908

Actions (login required)

View Item View Item